BEKASI | Terastv.com – Upaya meningkatkan kompetensi guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) agar sesuai dengan kebutuhan dunia industri terus dilakukan melalui Program Kredensial Mikro Guru SMK 2026. Kali ini, PT Kampuh Welding Cikarang menjadi mitra pelatihan pengelasan Pada,Hari Senin (12/10/2026), yang berlokasi di Desa Karangmukti, Kecamatan Karangbahagia, Kabupaten Bekasi.
Program yang didukung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini diikuti 20 peserta. Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan keterampilan praktik guru SMK agar mampu memberikan pembelajaran yang lebih relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
Dalam pelaksanaannya, terdapat tiga bidang pelatihan yang ditawarkan, yakni pengelasan 1G GTAW, 3G FCAW, serta pengelasan pipa posisi 6G dengan proses GMAW dan SMAW.
Direktur Kampuh Welding Cikarang, Arif Mulyanto, menjelaskan bahwa pada pelaksanaan 2025, pihaknya turut berpartisipasi dalam Program Kredensial Mikro dengan membuka satu bidang pelatihan, yaitu 3G FCAW. Sementara pada 2026, program tersebut dikembangkan dengan pilihan keterampilan pengelasan yang lebih beragam.
“Jadi, Kredensial Mikro ini dimulai tahun 2025. Alhamdulillah, saat itu PT Kampuh Welding Cikarang ikut berpartisipasi. Waktu itu hanya satu program, yaitu 3G FCAW. Untuk saat ini, kita punya program 1G GTAW, kemudian 3G FCAW, serta pengelasan pipa 6G dengan proses GMAW dan SMAW,” ujar Arif Mulyanto.
Menurut Arif, pelatihan ini menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya tenaga pendidik SMK yang memiliki peran besar dalam menyiapkan lulusan terampil dan siap memasuki dunia kerja.
General Manager PT Kampuh Welding Cikarang, Repindo Merdeka, menyampaikan bahwa peningkatan kompetensi guru SMK masih perlu terus diperluas agar semakin banyak tenaga pendidik memperoleh kesempatan meningkatkan keterampilan sesuai kebutuhan industri.
Ia menyebutkan, berdasarkan data atau statistik yang disampaikannya, peningkatan keterampilan guru di Indonesia masih berada di angka 10 persen. Karena itu, program seperti Kredensial Mikro dinilai perlu dilanjutkan dan dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya.
“Jadi, sesuai dengan program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dalam catatan atau statistiknya, di Indonesia ini baru ada 10 persen yang ditingkatkan skill-nya. Artinya, masih banyak lagi yang harus ditingkatkan. Tentunya program ini akan diteruskan pada tahun-tahun berikutnya dengan kualitas yang insyaallah lebih baik,” ungkap Repindo.
Ia berharap keberlanjutan program tersebut dapat memberikan kesempatan lebih luas bagi guru SMK untuk memperbarui kemampuan teknis sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis praktik di sekolah masing-masing.
Arif Mulyanto menambahkan, bahwa Program Kredensial Mikro Guru SMK merupakan program pelatihan gratis bagi peserta. Seluruh biaya kegiatan ditanggung pemerintah melalui program yang didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
“Program Kredensial Mikro ini tidak berbayar, jadi gratis. Semua biaya dibebankan oleh pemerintah melalui program LPDP. Jadi, LPDP yang membiayai kegiatan ini,” Tambahnya.
Dengan dukungan pembiayaan tersebut, para guru dapat mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keterampilan tanpa harus mengeluarkan biaya sendiri.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan vokasi melalui peningkatan kualitas tenaga pendidik, terutama pada bidang keahlian yang membutuhkan kemampuan praktik dan penguasaan teknologi.
Arif menegaskan bahwa tujuan utama Program Kredensial Mikro adalah meningkatkan keterampilan guru agar pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar.
Dengan kemampuan praktik yang semakin baik, guru diharapkan mampu memberikan materi pembelajaran yang lebih mendalam kepada siswa, baik dari sisi teori maupun praktik pengelasan.
“Tujuan utama Kredensial Mikro ini adalah meningkatkan skill para guru, sehingga siswanya bisa mendapatkan masukan yang lebih baik dan memiliki keterampilan yang lebih baik juga setelah lulus,” katanya.
Menurutnya, peningkatan kompetensi guru menjadi salah satu faktor penting dalam mempersiapkan siswa SMK menghadapi persaingan dunia kerja. Terlebih, industri membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan teknis sesuai bidang keahliannya.
Meski demikian, Arif menjelaskan bahwa Kampuh Welding Cikarang tidak memiliki kerja sama khusus untuk menyalurkan lulusan peserta pelatihan ke perusahaan atau mencarikan pekerjaan bagi mereka.
Namun, pihaknya tetap membuka kesempatan bagi para lulusan yang ingin meningkatkan kemampuan pengelasan melalui pelatihan lanjutan di Kampuh Welding Cikarang secara mandiri.
“Kami tidak ada kerja sama untuk mencarikan pekerjaan. Namun, kami memberikan kesempatan bagi para lulusan untuk meningkatkan skill dengan datang ke Kampuh Welding Cikarang dan mengikuti training secara mandiri. Mereka bisa memilih program yang diinginkan dengan biaya sendiri agar keterampilannya semakin baik dan bisa digunakan untuk bekerja di industri,” jelas Arif.
Kesempatan Ini dapat dimanfaatkan oleh para lulusan yang ingin memperdalam keterampilan teknis, meningkatkan kemampuan pengelasan, dan mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan dunia kerja.
Kampuh Welding Cikarang merupakan lembaga pelatihan kerja swasta yang berfokus pada pengembangan kompetensi pengelasan. Lembaga ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan tenaga welder atau juru las yang memiliki keterampilan sesuai bidang keahliannya untuk memenuhi kebutuhan industri nasional maupun internasional.
Kampuh Welding Indonesia yang berpusat di Surabaya berdiri sejak 2015, sedangkan Kampuh Welding Cikarang mulai hadir pada 2017.
Kampuh Group juga menaungi sejumlah unit, di antaranya Kampuh Welding Indonesia, Kampuh Welding Cikarang, Laboratorium Kampuh Indonesia, LSP Perkapalan, dan Kampuh Academy Indonesia.
Melalui keterlibatan dalam Program Kredensial Mikro Guru SMK 2026, Kampuh Welding Cikarang diharapkan terus berkontribusi memperkuat hubungan antara dunia pendidikan vokasi dan kebutuhan industri.
Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan guru, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis praktik di lingkungan SMK.
Dengan keterampilan yang terus diperbarui, para guru diharapkan mampu membawa pengetahuan dan pengalaman yang relevan dengan kebutuhan industri ke ruang kelas maupun bengkel praktik sekolah.
Pada akhirnya, peningkatan kompetensi tenaga pendidik diharapkan dapat membantu menghasilkan lulusan SMK yang lebih terampil, kompeten, dan siap bersaing di dunia kerja.[*]




